KERUNTUHAN MAJAPAHIT (dalam sebuah perspective pribadi)

Berdasar beberapa penulisan mengenai keruntuhan Majapahit nampaknya perpindahan kekuasaan antara seorang ayah dan anak begitu mencolok hingga sastra atau catatan segera bermunculan beberapa decade setelahnya, entah benar ataupun tidak sepertinya semuanya memiliki pola yang sama, perebutan kekuasaan anak-orang tua.

Kisah keruntuhan ini diawali dengan peristiwa perkawinan Bhrawijaya V dengan Putri Champa. Sekiranya perkawinan ini kemudian hari menjadi rangkaian perubahan besar bagi sejarah Majapahit, setidak-tidaknya peristiwa ini menjadi bagian dari dampak kecamuk suksesi di dalam keraton Majapahit yang telah lama membara semenjak meletusnya Perang Paregreg dan belum ada yang mengulas alasan mengapa Bhrawijaya memutuskan untuk mengawini Putra Champa, namun jika dilihat sepintas sepertinya perkawinan ini adalah sebuah langkah politik perkawinan yang biasa dipakai oleh berbagai kalangan kerajaan untuk memperoleh dukungan.

Secara internal, selain menjadi konflik dengan para istri Bhrawijaya yang berasal dari Jawa perkawinannya dengan Putri Champa, perkawinan tersebut juga membawa konflik baru di keluarga besar istana, seolah peristiwa itu mengingatkan kembali akan peristiwa Dyah Wijaya/ Nararya Sangramawijaya yang mengawini Dara Pethak di mana perkawinan tersebut membuat garis tampuk kepemimpinan Majapahit nyaris saja lepas dari keturunan murni Jawa, dan hal itu tentunya tidak ingin terulang kembali.

Jika pada masa awal berdirinya Majapahit, 4 putri Krtanegara (raja Singhasari) yang semuanya dijadikan sebagai permaisuri Sangramawijaya semua tampil dari belakang layar secara anggun melakukan langkah politis masing-masing hingga mampu memulangkan Dara Pethak serta mengambil kembali tahta Majapahit dengan menempatkan putri Tribhuwana Wijaya Tunggadewi, maka untuk masa Bhrawijaya V para wanita di belakangnya nampak seperti tidak dapat berbuat banyak.

Perkawinan antara Brhrawijaya dan Putri Champa pun terlaksana.

Disebutkan bahwa kemudian Putri Champa dikirimkan ke Palembang diberikan kepada Adipati Palembang (Arya Damar) dengan membawa benih dari Bhrawijaya. Dengan begitu Arya Damar sebagai Adipati Palembang (daerah taklukan) harus menyerahkan kembali kekuasaan atas Palembang kepada calon anak yang akan di lahirkan Putri Champa, dengan demikian sebagai wilayah taklukan anak dari raja bawahan tidak memiliki hak mutlak atas kekuasaan ayahnya.

Ketika anak yang dikandung oleh Putri Champa yang telah dikirimkan ke Palembang ini lahir, diberikanlah nama secara Tionghoa yaitu Jin Bun. Awalnya agak aneh bagi saya membedakan Champa-Tinghoa-Jawa Islam di potongan cerita ini, karena jika dilihat dari kalimat Champa sepertinya menyebut sebuah wilayah Vietnam yang kebudayaannya tentu agak berbeda dengan Tiongkok, namun ketika Putri Champa yang dikawini Brawijaya melahirkan seorang anak laki-laki dan memiliki nama Tiongkok bukan nama sebagaimana orang Champa, begitupun dengan nama Patah sebagai lafal bahasa Jawa terhadap nama Fatah yang merupakan bahasa Arab.

Pemahaman yang bisa saya dapatkan adalah bahwa sepertinya Putri Champa memanglah seorang wanita Tiongkok yang tinggal di Champa , sehingga nama Champa hanyalah sebagai identitas wilayah tinggalnya saja, sehingga ketika dirinya melahirkan seorang anak dari keturunan seorang Jawa (Hindu) namun kemudian diberikan kepada seorang pria penguasa Palembang dengan serta merta anak ini tidak diberi nama Jawa, maka Jin Bun, nama Tiongkok lebih bisa dipahami dengan mengikuti garis ibu. Dengan begitu Jin Bun adalah nama kecil dari anak hasil perkawinan raja Brawijaya dengan Putri Champa.

Sebagaimana yang telah direncanakan Brawijaya dalam rencana politik perkawinannya, Jin Bun putranyalah yang akan menguasai Palembang beserta wilayah kekuasaannya, namun ketika menginjak masa remajanya tiba-tiba Jin Bun justru kemudian melarikan diri ke Jawa menolak kekuasaan atas Palembang yang telah diberikan kepadanya sejak dia dalam kandungan.

Ada beberapa kemungkinan yang memotivasi Jin Bun melakukan hal ini:

Secara internal bisa jadi Jin Bun dalam sebuah situasi ancaman (atau malah konspirasi) mengingat yang berkuasa di Palembang bukanlah ayah kandungnya, bisa jadi antara Adipati Arya Damar penguasa Palembang memiliki putra kandung sendiri yang diharapkan akan menggantikannya bukan Jin Bun walau dia putra raja Majapahit penguasa atas Palembang.

Secara eksternal, ada sebuah kekuatan besar di luar keraton Majapahit yang ikut campur tangan dalam situasi politik Majapahit kala itu, hal ini terlihat jelas ketika Jin Bun (yang diikuti Raden Kusen) justru melarikan diri ke Jawa tanpa sebuah status kekuasaan yang pasti, jika Jin Bun mengincar kekuasaan Majapahit secara langsung tentu akan sangat sulit karena dirinya bukanlah putra mahkota, terlebih ibunya telah dipindahkan ke Palembang. Ada sebuah keberanian yang sangat besar di sini. Dan hal yang mencolok adalah ketika Jin Bun di Jawa justru mendirikan sebuah Pesantren dengan nama Pesantren Glagah Wangi, bagaimana mungkin seorang putra dari Putri Champa yang keturunan Tiongkok dan berayah seorang Jawa yang Hindu mendirikan Pesantren Islam?

Di beberapa penulisan lain menyebutkan bahwa Jin Bun (berarti orang kuat) juga bernama Patah, lafal Jawa dari Fatah dati bahasa Arab yang berarti “kemenangan” mendirikan pesantern Glagah Wangi. Nampak hal ini begitu mulus sekali untuk diceritakan, tapi jika diamati sepertinya banyak kejanggalan, salah satunya yang tersebut di atas.

Jika tidak salah analisa saya Jin Bun adalah nama kecilnya semenjak di terlahir di Palembang dan Fatah adalah nama barunya ketika di Jawa, jika ada nama lain seharusnya nama Jawa Kuno dengan tidak terpengaruh bahasa Arab terlebih Bhrawijaya bukanlah dari Arab ataupun Tiongkok. Saya melihatnya bahwa pada saat Jin Bun memutuskan ke Jawa, ada sebuah dorongan dukungan dari Adipati Arya Damar agar Jin Bun berkuasa atas Majapahit, ada keuntungan yang dimiliki oleh Adipati Arya Damar, yaitu: dengan situasi politik Majapahit yang semakin kacau maka jalan pertamanya adalah mendukung calon pengganti Brawijaya yaitu anaknya yang saat itu adalah anak tirinya, dengan didukungnya Jin Bun untuk berkuasa atas Majapahit berarti tidak ada saingan bagi keturunan Adipati Arya Damar yang akan berkuasa atas Palembang. Namun jika ternyata Jin Bun gagal merebut kekuasaan Brawijaya atas Majapahit maka yang tertuduh sebagai pemberontak tetaplah Jin Bun, sementara Adipati Arya Damar akan terbebas dari tuduhan dari Majapahit karena mendukung pemberontakan dengan alibi Jin Bun dianggap melarikan diri dari Palembang. Sementara jika Jin Bun berhasil berkuasa atas Majapahit maka jasa besarlah yang akan diterima karena telah mendukung Jin Bun naik tahta, terlebih lagi Adipati Arya Damar melindungi Putri Champa, ibu kandung Jin Bun.

Nampaknya Adipati Arya Damar yang berkuasa di Palembang tidak hanya mendukung secara langsung dari Palembang, jika dilihat dari alur cerita ini sepertinya Adipati Arya Damar terlibat juga dalam sebuah kesepakatan dengan orang-orang di Jawa dan sekiranya orang-orang itulah yang memberikan perlindungan dan mendukung Jin Bun ketika di Jawa.

Di sinilah saya melihat benang merah terbentuknya nama antara Jin Bun-Fatah-Raden Fatah.

Jika pada masa berdirinya Majapahit, Raden Wijaya membuka hutan Tarik menjadi sebuah padukuhan hampir sama ceritanya dengan Jin Bun di Jawa.

Pada saat pelariannya ke Jawa, Jin Bun mendarat di pesisir utara Pulau Jawa, mungkin saat itu tidak serta merta dia mendirikan sebuah pesantren, terlebih dahulu Jin Bun dibekali ilmu keagamaan serta diberikan nama baru Fatah oleh para pelindungnya, sehingga manakala Pesantren Glagah Wangi berdiri pemimpinnya bukanlah sekedar seorang keturunan Tiongkok yang melarikan diri atau anak Tiongkok campuran dari seorang ayah yang Jawa Hindu, melainkan seorang pria berdarah campuran yang beragama Islam dari ayah seorang Raja Majapahit.

Terlihat sekali dukungan para Sunan dalam perkembangan Pesantren Glagah Wangi ini terutama dalam kecepatan penambahan jumlah pengikutnya yang kemudian berimbas terhadap banyaknya tempat tinggal untuk para santri hingga membentuk sebuah koloni baru yang semakin membesar, hingga pada akhirnya Brawijaya mengangkat Jin Bun menjadi Bupati Glagah Wangi yang berarti Glagah Wangi tidak sekedar pesantren melainkan sebuah daerah baru berbentuk Kadipaten.

Jika pada masa Raden Wijaya, Padukuhan Tarik dibantu oleh Arya Wiraraja penguasa Sumenep dengan penempatan sejumlah penduduk Madura, maka pola ini diulang kemabli di peristiwa Jin Bun mendirikan Pesantren Glagah Wangi yang berkembang menjadi wilayah Kadipaten Glagah Wangi dimana dibantu oleh para Sunan. Ketika menelusuri sejarah awal Demak, disebutkan pesisir utara Jawa adalah tempat persinggahan para ulama dari wilayah Timur Tengah dan para saudagar dari Tiongkok, nampaknya saya tidak bisa menganggap bahwa orang-orang di balik berdirinya Pesantren Glagah Wangi tidak hanya para Sunan saja, mengingat Jin Bun memiliki darah campuran, sepertinya ada campur tangan para saudagar Tiongkok juga. Sehingga keberadaan Jin Bun di pesisir utara merupakan sebuah kesepakatan besar antara para Sunan yang notabene berasal dari Timur Tengah dengan para Saudagar Tiongkok.

Para Sunan memiliki sumber kekuatan besar yang berasal dari jumlah para santri sedangkan para saudagar Tiongkok memiliki kekuatan besar yang berasal dari sector ekonomi.

Semakin lama perkembangan Kadipaten Glagah Wangi yang tadinya hanya sebuah pesantren menjadi semakin besar, bisa jadi penduduknya yang memiliki usia produktif sangat besar sehingga secara perhitungan jika dipersiapkan dalam sebuah peperangan bisa mengimbangi jumlah tentara Kerajaan Majapahit yang mulai melemah. Di titik inilah sebuah langkah di mulai, pengambil alihan kekuasaan Brawijaya atas Majapahit oleh Raden Fatah secara perlahan dimulai.

Ajakan masuk Islam oleh seorang anak kepada ayahnya adalah langkah politik ampuh para Sunan yang berada di barisan belakang Raden Fatah/Jin Bun untuk menampakkan diri di kancah politik, sementara dukungan dari para Saudagar Tiongkok menjadi ancaman serius atas perekonomian Majapahit. Ajakan masuk Islam yang ditawarkan bisa saja ditolaknya, namun ancaman perekonomian sepertinya sangatlah mengkhawatirkan, namun juga perekonomian Majapahit tetap akan diserang jika Brawijaya tidak masuk Islam. Perlawanan seperti apakah yang akan dilakukan oleh Brawijaya? Jika dirinya menolak masuk Islam sebagaimana yang ditawarkan maka bencana perekonomian akan melanda, dan pemberontakan akan meletus di mana-mana yang berakibat lepasnya kerajaan-kerajaan bawahan seperti Palembang dan sekitarnya, sedangkan jika Brawijaya masuk Islam perekonomian tidak akan diserang tapi Brawijaya akan kehilangan dukungan dari dalam istana Majapahit dan sekutu-sekutunya juga masyarakatnya yang notabene masih satu agama dengan Brawijaya.

Pertempuran pun pecah di dalam istana oleh para pengikut Brawijaya namun dapat dipadamkan oleh para pengikut Raden Fatah.

Di satu sisi Brawijaya harus melindungi kehidupan rakyatnya di satu sisi Brawijaya harus menjaga harkat dan martabatnya sebagai seorang raja, dan akhirnya Brawijaya memutuskan untuk mengorbankan martabatnya sebagai seorang raja dengan mengikuti keinginan putranya dari hasil perkawinannya dengan Putri Champa yang dipilihnya.

Keruntuhan Majapahit pun terjadi, pelarian besar-besar ke luar istana seiring meletusnya berbagai pemberontakan di dalam keraton serta pelepasan para kerajaan bawahan.

Di satu sisi ini adalah cerita gemilang awal kemunculan Islam di tanah Jawa di mana Islam mulai memasuki ranah yang semakin luas, tapi di sisi lain ini adalah cerita yang menyedihkan, sebuah peperangan antara anak dengan ayahnya yang di dalam sastra Jawa disebut zaman Gojali Suta.

Dalam beberapa catatan peristiwa hancurnya Majapahit ditengarai dengan sengkalan “Sirna Ilang Kertaning Bhumi” yang jika terjemahkan adalah “hilang sirna kemakmuran bumi”, kekalahan ini begitu telak bagi Bhrawijaya yaitu: kehilangan kepercayaan para pengikut setianya (kepergian Sabdopalon Naya Genggong dalam tulisan sastra), menjadi raja terakhir dari sebuah emporium, dan malu bahwa musuhnya adalah putranya sendiri, kemudian atas kejadian ini Bhrawijaya mengasingkan diri, ada yang mengatakan mengasingkan diri ke Gunung Lawu (Jawa Tengah) menjadi Sunan Lawu, ada juga yang mengatakan pergi menyeberang ke Bali.

Di sela-sela pemberontakan yang memicu pelarian diri dari dalam istana, ada sebuah peristiwa yang luput dari pengamatan yaitu ketika Dewi Wandansari istri dari Brawijaya melahirkan seorang putra dan melarikannya ke wilayah Jawa Tengah yang di kemudian hari akan membuat sejarah lain. (BERSAMBUNG)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s